Optimalkan Kinerja Mesin Motor Anda .....

Diposting oleh kiki santoso Jumat, 04 Maret 2011

CR atau Compression Ratio adalah perbandinganyang kita kenal dengan perbandingan kompresi . Bagaimana menghitung/mengetahui kompresi? sebenarnya bisa di hitung antara ruang bakar pada saat piston diatas(kita kenal dengan TMA (Titik Mati Atas) terhadap ruang Clynder pada saat piston berada pada titik paling bawah yang kita kenal dengan TMB (titik Mati Bawah)


CR atau Compression Ratio adalah perbandinganyang kita kenal dengan perbandingan kompresi . Bagaimana menghitung/mengetahui kompresi? sebenarnya bisa di hitung antara ruang bakar pada saat piston diatas(kita kenal dengan TMA (Titik Mati Atas) terhadap ruang Clynder pada saat piston berada pada titik paling bawah yang kita kenal dengan TMB (titik Mati Bawah) Contoh kalo Ratio 10:1 motor nya 100cc (kita ambil angkanya yang gampang aja ya...supaya gampang ngitungnya) jadi pada saat piston ada di titik paling atas ada sisa ruang bakar yang volumenya 10cc Octane = RON 88; Rasio Kompresi = 7:1 - 9:1 (Biasanya premium) Octane = RON 92; Rasio Kompresi = 9:1 - 10:1 (Biasanya Pratamax) Octane = RON 95; Rasio Kompresi = 10:1 - 11:1 (biasanya Pratamax Plus) Begini CR rasio kompresi makin tinggi makin membutuhkan octane yang tinggi pula Octane yang tinggi adalah BBM yang terbakarnya lambat Octane Yang rendah sebaliknya,BBM yang terbakarnya cepat Cara kerja pembakaranya adalah : BBM yang telah diproduksi oleh karbu dan di suplai keruang bakar setelah melalui tekanan /kompresi dan di ledakkan diruang bakar pada saat busi spark. Octane yang tinggi akan mendapat timing yang pas terbakar pada saat spark menyala,tekanan optimal (piston berada di titik atas) dan terjadi ledakan yang sempurna dengan BBM yang sedikit/pas(effisien) pula. Nah ledakan hasil pembakaran yang sempurna meledak pada saat piston berada di titik paling atas. Tapi yang terbaik dengan hitungan yang pas (biasanya Racing spec),ledakan kita hitung pada saat piston bukan paling atas tapi saat piston akan turun,maka ledakan akan menekan/mendorong piston turun dengan dahsyat (cepat). jadi power engine hanya dipakai untuk menaikan piston saja,sedang turunnya dari tenaga ledakan yang sempurna.dengan demikian tenaga engine hanya dipergunakan 2/3 (66%)nya saja . INILAH YANG DI SEBUT OPTIMAL Untuk Octane Rendah pembakarannya sangat cepat saking cepatnya maka busi belum spark BBM yang dikompresi sudah meledak(kalau dipakai pada mesin yang berkompresi tinggi). Nah disini ledakan nya akan berfungsi sebaliknya,meledak saat piston mau naik (belum sampe atas) jadi piston tertahan oleh ledakan,dan ruang masih besar,sehingga BBM nya banyak tapi tidak Optimal Ciri2 nya coba buka piston kalo pistonya bopeng2 seperti di tusuk2 paku ..itu berarti tidak optimal atau engine mengalami Preignition Nah di sini tenaga Engine dibutuh kan 110% untuk menjalankan engine ini (BBM pun Boros) Untuk Mencapai Optimal tadi apalagi Racing Spec tentunya bukan hanya Octane tapi setting dan parts sangat besar pengaruhnya 1 CDI harus baik (Hi performance ) 2 Piston harus ringan 3 Knalpot harus berfungsi turbulense jangan laminer 4 Stroke harus ballance agar tidak vibrasi 5 Meminimize gesekan /friksi selain kepresisian dari gesekan cylinder juga fungsi pelumas/Oli yang baik selain membantu meringankan friksi juga tidak menghalangi pembakaran karena meredam panas --> sangat diperlukan 6 Selanjutnya hitungan gear ratio yang tepat agar perpindahan gigi 1,2,3 dst tidak berjarak (close ratio) jadi power tidak terbuang,karena terbuangnya power membebani kinerja engine 7 Akhirnya BBM yang tepat/baik tebakar pada saat diperlukan/timing yang tepat Dengan demikian (7 Faktor diatas) maka BBM akan efisien dan tenaga mesin optimal. Akhirnya ada dimana spec mesin anda? pilih lah octane dan kompresi yang sesuai.